Posts Tagged ‘alam’


” Berbagi waktu dengan alam/kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya/hakikat manusia…”

Sepenggal lirik lagu yang di nyanyikan oleh Okta feat Eros di film Gie tersebut, mengandung makna yang aduuhhh… dalaaam (menurutku sehh). Kok bisa dalam? bayangin saja, dengan meluangkan sebagian waktu yang kita punya, alam mampu memberikan refleksi tentang diri kita yang sebenarnya, dan kehidupan…mantap nggakk?!

Hebat yah alam..,tapi bukan alam yang nyanyiin lagu mbah dukun itu loh…

Beberapa tahun yang lalu, aku memutuskan untuk ikut menjadi salah satu peserta diklatsar di sebuah unit kegiatan mahasiswa sekolah tinggi di surabaya. Entah atas motivasi apa,akhirnya aku memilih mahasiswa pecinta alam.

Proses diklatnya berlangsung selama sepuluh hari, empat hari di kampus dan sisanya di salah satu lereng gunung welirang,trawas,mojokerto,jawa timur,indonesia.

Sebagai seseorang yang belum pernah memiliki pengalaman berkegiatan di alam terbuka,ditambah lagi saat itu bukan sedang tamasya,maka nyali pun langsung kecut,tatkala melahap porsi kegiatan di hari pertama lapangan.

Para senior (sebutan bagi mereka-mereka yang jadi panitia,dan kami “harus” memanggilnya begitu) saat itu terlihat begitu menakutkan,atau mungkin hanya perasaanku saja yaahh..,namun yang pasti disana nggak ada yang namanya yang berleha-leha,segalanya serba disiplin, bahkan tak jarang kami mendapatkan punishment yang ….waah..waah..,ampun deh pokoknya.

Selama enam hari di camp penyiksaan ini..he..he..,kami diperkenalkan dengan miniatur kehidupan dan alam. Suatu pekerjaan yang jarang dilakukan,atau bahkan tak pernah terbayangkan,harus dilakukan disini. Namun dengan latar belakang kami yang beragam,hal itu jelas menjadi sesuatu yang susah dan aneh.

Sore hari,disalah satu ceck point, ditengah guyuran air hujan pegunungan yang dinginnya minta ampun,kami “dipaksa” membangun sebuah bivouc alam sebagai tempat berlindung (ada batas waktunya lagi). Perselisihan pun mulai timbul di antara kami. Permasalahan sepele bisa menjadi suatu rintangan yang amat besar saat itu.

Pembagian tugas mulai dari siapa yang mengambil air, masak, packing, hingga pergi tidur, terasa menjadi sebuah masalah yang besar. Sedangkan disisi lain, para senior terlihat begitu jeli mengamati, menunggu kami berbuat kesalahan.

Disuatu malam, di salah satu ceck point yang lainnya, kami kembali “dipaksa” untuk bangun dan menjalani serangkaian interview yang mendebarkan. Sebuah evaluasi diri dibuka malam itu, mengevaluasi sebagian hari yang telah kami jalani. Hasilnya..?? ha..ha..sudah tentu sangat buruk (bagi kami saat itu).

Ada juga sebuah waktu di mana kami berada di titik tertinggi dataran, dan dihadapkan dengan ciptaan tuhan yang indah. Rangkaian pegunungan terlihat jelas, saling terkait, dan tersambung, dekat sekali. Pohon-pohon cemara gunung juga tampak bergerombol di samping dan belakang kami.

Luas..besar..jauh..sejuk..dingin..berkabut..indah sekali alam ini..

Terkadang, lereng-lereng bukit yang curam terpaksa ditunggangi, hanya untuk mengikuti sudut jarum kompas, saat kami mempraktekkan materi navigasi. Kerjasama, kepercayaan, solidaritas, sudah mulai terbentuk diantara kami, meskipun terkadang masih saja ada yang memilih enaknya sendiri,he..he..

“Alam, iya.. dihutan nggak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi..”, ucap salah satu senior, saat itu. Benar saja, matahari yang sedari tadi masih mau menampakkan diri, walaupun malu-malu, kini justru lenyap. Hujan mulai turun, disepanjang usaha kami untuk menemukan korban kecelakaan pesawat terbang, dalam materi Search and Rescue.

Dalam kesempatan berkumpul bersama saat memasak (saat-saat favoritku). Rasa sesal untuk terjun dalam kegiatan ini, ternyata masih muncul diantara kami. Mengingat apa yang sudah dijalani, dan meraba apa yang akan dijalani. Maka, salah satu teman seperjuanganku berbisik pelan..apa maksud dari semua ini, apa ini akan berguna kelak..

Tidak ada jawaban saat pertanyaan itu terlontar, entah karena nggak ada yang bisa menjawab, atau memang kami tidak tahu. Namun, selang beberapa tahun berikutnya, saat kami kembali berkumpul (tapi nggak saat memasak,loh..), pertanyaan yang sempat terlontar itu mampu terjawab, bahkan kami semua mampu menjawabnya.

“Ini adalah tentang pendidikan karakter, dan manajemen, boz”, ucap salah seorang temanku. “Apa kita masih ingat saat di dataran tertinggi itu, semuanya tampak besar, tampak luas, tampak jauh, sejuk sekali saat itu, dan kita pun kedinginan, kita terasa begitu kecil disana, terasa begitu lemah, tak berdaya,..ini juga soal kesadaran tentang menghargai hidup dan kebesaran tuhan”, temanku yang lain menyahuti.

Setelah lama terdiam dan tampak habis mengingat-ingat, temanku yang selama ini begitu pendiam mulai angkat bicara, ” Selama di sana aku jadi mulai paham siapa aku sebenarnya, juga orang-orang yang bersamaku. Kita dihadapkan dengan suatu kondisi dimana kita tidak bisa menawar, dan solusinya hanya satu yakni berdamai. Alam tidak bisa ditawar, dan yang bisa dilakukan hanya berdamai dengannya”.

Tidak ada yang salah dengan jawaban mereka, semuanya betul. Mereka telah memilih pembelajarannya masing-masing dari pengalaman yang dilalui bersama. Namun setidaknya, hal ini menunjukkan bahwa keputusanku untuk bergabung dengan mereka bukanlah hal yang sia-sia.

Heemmm,jadi ingat lagi moment-moment itu…

 

 

 

 

 

Iklan