Posts Tagged ‘angka’

Angka

Posted: 14 Juli 2011 in waktunya merenung
Tag:, ,

 

angka

Angka mengubah pribadi menjadi instrumen. Jika dibalik angka itu adalah bangunan seorang tokoh, dengan cepat lahirlah jutaan pengikutnya dengan sebutan the true believer:orang yang siap mati untuk tujuan yang “dianggap” suci.

Siapakah yang bisa berdiri tegak seperti socrates?Si tukang batu tua,sekeras batu – batu yang ditumbuknya,dengan corong – corongnya keluar masuk kampung menolak kaum sophisme? Kaum sophisme mengatakan bahwa moral semata-mata persetujuan.Kalau itu dasarnya,semua yang baik tak lain adalah hal yang menyenangkan banyak orang.Mereka katakan jumlah orang sebagai ukuran bagi semua hal.

Karena itu socrates menentangnya:hidup abadi terdapat dalam norma. Sesuatu yang mempunyai sifat mutlak dan abadi.Norma ada dalam diri orang itu sendiri.Si tua socrates katakan: “kenalilah dirimu sendiri”.Dan,situkang batu tua akhirnya diracun:neski tantgannya tetap memegang “bendera” hukum republik.

Jika moral adalah angka: seperti dalam benak politisi indonesia,siapa pun yang memegang banyak orang akan memegang bangunan moral,tempat dasar kebenaran disebarkan. Tidak heran,para politisi, si binatang politik,bernafsu menguasai angka. Angka massa. Sebab, angka massa: menuntun pada kuasa,menuntun moral kebenaran.

Kekuatan angka massa, bagi kaum sophisme, bisa membentuk bangunan moral kebenaran. Tetapi, bagi Gustave Le Bon, bangunan massa bisa menularkan sugesti yang dahsyat.

Sugesti kebersamaan,insting,emosi,dan ketunggalan. Jika seseorang berada dalam massa, dalam angka, dalam crowd, dia akan berubah menjadi instrumen. Bukan lagi pribadi.

Sugesti massa yang menyebar,mengembang, dan meluas membuat siapapun tunduk di bawah sugesti crowd. Tidak heran kalau Ortega Gazet berkesimpulan: semua individu akan tunduk dibawah ketik massa. Massa bisa barbar. Massa hanya mengenal satu kata: angka. Sebab, jutaan nyawa menjadi angka.

Pertanyaan dasarnya adalah: apakah para politisi indonesia adalah kaum sophisme? Mungkin benar atau mungkin bukan. Binatang politik itu dilahirkan untuk mencari kekuasaan dan kalu sudah memegang kekuasaan akan mempertahankannya mati – matian.

Jika itu soalnya,jalan masuk binatang politik ke kursi kekuasaan adalah massa. Semua pemilu memerlukian angka massa. Semua kursi dihitung dari angka massa. Sura resi,biksu, kiai,pendeta, tukang becak,profesor, dan jurnalis adalah satu angka. Tidak ada pribadi. Dengan demikian, bangunan dasar kursi kekuasaan adalah angka massa. Masalahnya adalah: bagaimanakah cara para binatang politik indonesia menguasai angka massa?

Pada awal 1997 yang basah di london,inggris,ditepi sungai thames,di daerah dockland, berdiri beberapa panggung untuk pesta besar mnyambut kedatangan milenium ketiga.Pesta pora besar untuk suatu harapan besar. Manusia memang suka pada suatu upacara besar: Betapapun tak ada kepastian. Pesta pora macam itu terjadi pula di beberapa negara eropa,diluar inggris, dan amerika serikat.

Mereka menyambut datangnya abad baru yang entah akan dikemanakan nasib manusia. Tapi, sebagaimana para anak cucu adam itu penuh optimisme dan harapan besar. Terasa di balik semua itu, ada sepotong pelarian dari ketidaksempurnaan abad ke-20 yang akan ditinggalkan. Karena itu,pesta pora dalah potongan kekecewaan dan serpihan harapan.

Millenium ketiga adalah lompatan dari era mekanik ke era kicro elektronik, abad teknologi ke abad citraan, dari realitas menuju hiperealitas, dan dari space menuju hyperspace. Media massa dalam konteks lompatan abad ini menjadi salah satu kekuatan penting.

Media massa mempunyai kekuatan massif,contagion, dan penuh sugestif jika diulang-ulang secara sistematis. Sebagian besar brand pasar dunia seperti McDonald’s,KFC,komputer IBM,industri pesawat terbang,makanan donat,kentang,mobil,garmen,bentuk dan gaya hidup modern disebarkan melalui media massa.

Media massa telah mendekatkan semua benua,negara,dan bangsa. Apa yang terjadi di Amerika serikat,inggris,prancis,italia,afrika selatan,amerika latin, dan semua negara asia bisa dinikmati hari ini juga dan saat ini juga.

Bahkan melalui media massa kita bisa melihat dengan jelas celana dalam madonna, raut wajah cristiano ronaldo saat meringis kesakitan diganjal lawan main. Wajhnya sangat dekat: lebih dekat daripada diri kita sendiri. Jika kita gila bola,mungkin kita lebih paham sifat jose mourinho daripada sifat diri kita sendiri. Itu semua akibat serbuan media massa ke dalam otak kita.

Tidak heran kalau beberapa politisi kita dengan sangat rakus berusaha menguasai media massa,baik cetak maupun elektronik, dari jakarta sampai ke daerah – daerah. Para binatang politikj itu berusaha mengepung semua kehidupan masyarakat dengan kekayaannya dan untuk kemudian, menurut ortega gazet,menundukkan orang per orang ke dalam “moral” massa.

Dunia perdagangan dan industri telah dikangkangi,dunia politik digenggamannya, dan saat ini dunia massa dikuasai. Siapapun yang berani melawan binatrang politik ini dengan cepat dan sistematis dijungkirkan. “Dibunuh” dan dijuing-juingkan melalui siasat media massa secara sistematis dan masif.

Kasus bank century adalah satu contoh yang bagus. Orang sebersih dan sebrilian Sri mulyani akhirnya dijungkirkan dan diempaskan oleh para binatang politik di senayan, tangan kotor kapitalis media massa, dan mungkin beberapa potong tangan kotor binatang politik yang rakus itu. Kemudian , beberapa binatang politik yang dulu bertangan kotor,penuh darah,disulap menjadi pembela rakyat,pejuang rakyat, dan akan menyelamatkan rakyat.

Mungkin ada binatang politik yang tolol dan bego oleh media massa disulap menjadi citra binatang politik yang sederhana,merakyat, dan pejuang rakyat.

Untung ada laki-laki berwajah bloon kayak gayus halomoan tambunan. Maka mafia pajak,peradilan,kepolisian,tahanan,dan persengkokolan antara bandit dan binatang politik mulai terkuak.

Hukum mungkin satu saat tidak bisa menyentuh para binatang politik itu,tetapi didepan mata masyarakat yang telah disulap menjadi angka itu rasanya mulai ada gambar,meski samar-samar,dedengkot sophisme “ersatz” (pinjam istilah Yoshihara Kunio) yang mungkin terbesar dalam sejarah perpolikan indonesia.

Jika ada binatang politik yang telah tersengat oleh media massa lain, pertarungan opini dan pencitraan segera berlangsung. Pers libertarian,seperti di awal perkembangan negara Amerika serikat, mulai berkembang disini.

Persoalannya adalah siapa yang berani menjadi socrates tua itu? Atau siapa yang mau berperan seperti Galileo galilei yang mengakhiri hidupnya di tahanan? Atau adakah seseorang bersedia berperan seperti nabi Isa As yang akhirnya memanggul nasibnya di atas bukit golgota?

Ataukah kita perlu ada orang macam Jan Palach, si obor nomor satu zaman komunisme cekoslowakia pada januari 1969? Mahasiswa universitas charles yang membakar diri sendiri di sudut lapangan wenceslas untuk sepotong kebebasan. Mungkin itu terlalu puitis dan naif.

Ataukah kita mungkin bisa bernasib saeperti yang dialami hamlet di pangkuan horatio. M enjelang ajalnya tiba,pangeran denmark yang kula akibat pedang beracun itu berucap “dan selebihnya diam dalam sunyi”. And the rest is silence. Kematian sebagai akhir dari kehidupan,sehingga lakon pun usai.

Ataukah kita harus bersikap seperti rendra “ ada orang memanah rembulan” karena itu “kesaksian” kita harus dibanglkitkan dan “orang-orang harus dfibangunkan?”. Atau kita marah seperti nietzche,eksistensialisme ateis itu, “ Tidak seorang pun seniman dapat menerima kenyataan?”

ditulis oleh: Ariwibowo (dekan fakultas ilmu budaya Universitas Airlangga,Surabaya,Indonesia)

Iklan