Posts Tagged ‘gunung tambora’

Gunung Tambora

Posted: 7 Juli 2011 in hiking
Tag:, ,

Gunung Tambora (atau Tomboro) 2850 Mdpl adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak pada koordinat 8°15′ LS dan 118° BT, di pulau Sumbawa,NTB, Indonesia.

Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima.  Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya, sehingga mampu meningkatkan ketinggian  sampai 4.300 m yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara.

Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181.

Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut, bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan.

Selain itu,dampak letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia pada tahun 1816 dikenal  sebagai Tahun tanpa musim panas. Hal inidisebabkan karena terdapat partikel debu vulkanis yang mencapai atmosfer.

Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan di tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.


Sebelum letusan tahun 1815, Gunung Tambora telah   meletus sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 3910 SM, 3050 SM, dan 740 M. Masing-masing letusan memiliki letusan di lubang utama, tetapi terdapat pengecualian untuk letusan ketiga. Pada letusan ketiga, tidak terdapat aliran piroklastik. Hal ini dapat diungkap melalui teknik penanggalan radio karbon.

Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815. Besar letusan ini masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter kubik. Karakteristik letusannya termasuk letusan di lubang utama, aliran piroklastik, korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera.

Letusan ketiga ini memengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal 15 Juli 1815. Aktivitas selanjutnya kemudian terjadi pada bulan Agustus tahun 1819 dengan adanya letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai gempa susulan yang dianggap sebagai bagian dari letusan tahun 1815.

Letusan ini masuk dalam skala kedua pada skala VEI. Sekitar tahun 1880, Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera. Letusan ini membuat aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.

Gunung Tambora merupakan gunung api aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20.Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967, yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.