Posts Tagged ‘gunung’


Gunung Argopura (bhs jawa gunung yang panjang) merupakan salah satu puncak tertinggi (3.008 mdpl) yang termasuk di dalam deretan pegungan Hyang,yang terletak di kabupaten Probolinggo,Jawa Timur,Indonesia.

Pegunungan Hyang berada diantara dua gunung besar lainnya yang ada di Jawa Timur,yakni Gunung Raung disisi timur serta Gunung Semeru di sisi barat.

Pegunungan Hyang mempunyai kawasan hutan yang heterogen, terdiri dari hutan Dipterokarp bukit, hutan Dipterokarp atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Oleh karena sifat hutannya heterogen,maka kawasan ini juga menjadi tempat berlangsungnya hidup 10 famili jenis tumbuhan.Selain itu berdasarkan data inventarisasi BKSDA Jatim II pada tahun 2003, juga ditemukantumbuhan obat.

Kawasan hutan yang heterogen sudah tentu juga menjadi habitat berbagai jenis satwa, yang meliputi jenis mammalia (rusa,kucing hutan,kijang,musang,babi hutan,lutung), danaves ( sebanyak 46 jenis).

Untuk dapat mencapai puncak Gunung Argopuro, sudah tersedia dua jalur yang lazim digunakan sebagai jalur pendakian. Jalur yang pertama adalah lewat desa Baderan dan lewat desa Bremi.

Jalur Baderan:

Dari kota manapun (naik Bus) – turun di alun-alun Besuki (disini kita bisa numpang nginap di Koramil,bagi yang kemaleman).

Besuki – Baderan (naik angkutan desa,kalo gk salah warnanya biru)

Baderan (melakukan registrasi dulu) – Mata Air I (5 jam perjalanan ; terdapat mata air di sisi kiri dalam jalur).

Mata Air I – Cikasur (4,5 jam perjalanan; terdapat sungai).

Cikasur – Cisentor (3jam perjalanan;terdapat sungai).

Cisentor – Rawa Embik ( terdapat aliran air) – Puncak Rengganis (2,5 jam perjalanan).

Puncak Rengganis – Puncak Argopuro (30 menit perjalanan).

Puncak Argopuro – Rawa Embik – Cisentor ( 1,5 jam perjalanan).

Cisentor – Aeng Kenik (2 jam perjalanan;terdapat sungai).

Aeng Kenik – Danau Taman Hidup (5 jam perjalanan;terdapat danau).

Danau Taman Hidup – Desa Bremi (2 jam perjalanan).

Sedangkan untuk jalur Bremi:

Dari kota manapun (naik bus) – Terminal Probolinggo.

Terminal Probolinggo – Garasi Bus Akas.

Garasi bus Akas – Desa Bremi

Bremi – Danau Taman Hidup (3,5 jam perjalanan)

Danau Taman Hidup – Aeng Kenik (7 jam perjalanan)

Aeng Kenik – Cisentor (2 jam perjalanan).

Cisentor – Rawa Embik – Puncak Rengganis (2,5 jam perjalanan)

Puncak Rengganis – Puncak Argopuro (30 menit perjalanan).

Puncak Argopuro – Rawa Embik – Cisentor ( 1,5 jam perjalanan).

Cisentor – Cikasur (3 jam perjalanan).

Cikasur – Mata Air I ( 4,5 jam perjalanan)

Mata Air I – Desa Baderan ( 3 jam perjalanan).

Melakukan pendakian ke pegunungan Hyang pasti sangat mengesankan. Jalur pendakian yang bervariatif, serta panjang jelas – jelas memberikan nilai plus tersendiri, sekaligus mengasah ketahanan.


Letusan gunung Tambora tahun 1815 mampu menyemburkan sulfur hingga stratosfer, dan menyebabkan penyimpangan iklim global.

Pada musim semi dan musim panas tahun 1816, sebuah kabut kering terlihat di timur laut Amerika Serikat. Kabut itu  mengurangi cahaya matahari menjadi seperti bintik danterlihat dengan mata telanjang.

Baik angin atau hujan tidak dapat menghilangkan kabut tersebut. Kabut itu diidentifikasikan sebagai kabut aerosol sulfat stratosfer.

Pada musim panas tahun 1816, negara di Belahan Utara menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai Tahun tanpa musim panas. Temperatur normal dunia berkurang sekitar 0,4-0,7 °C, cukup untuk menyebabkan permasalahan pertanian di dunia.

Pada tanggal 4 Juni 1816, di Connecticut dilaporkan mengalami musim dingin yang ekstrem. Pada hari berikutnya hampir seluruh New England dilanda musim dingin.

Pada tanggal 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine. Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara.

Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun didekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.

1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 M,semenjak  letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600.

Tahun 1810-an adalah rekor dekade terdingin  akibat dari letusan  Gunung Tambora tahun 1815 . Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817 dan tahun 1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 °C, sehingga Eropa dilanda musim dingin yang mematikan.

Perubahan iklim menyebabkan wabah tifus di Eropa Tenggara dan Laut Tengah bagian timur pada tahun 1816 dan tahun 1819.

Banyak ternak meninggal di New England selama musim dingin sepanjang tahun 1816-1817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di Kepulauan Britania.

Keluarga-keluarga di Wales mengungsi dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di Irlandia utara dan barat daya karena mengalami gagal panen.

Demonstrasi dan kerusuhan besar-besaran terjadi di Jerman disebabkan harga makanan naik dengan tajam.  Ini adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19

Gunung Tambora

Posted: 7 Juli 2011 in hiking
Tag:, ,

Gunung Tambora (atau Tomboro) 2850 Mdpl adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak pada koordinat 8°15′ LS dan 118° BT, di pulau Sumbawa,NTB, Indonesia.

Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima.  Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya, sehingga mampu meningkatkan ketinggian  sampai 4.300 m yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara.

Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181.

Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut, bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan.

Selain itu,dampak letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia pada tahun 1816 dikenal  sebagai Tahun tanpa musim panas. Hal inidisebabkan karena terdapat partikel debu vulkanis yang mencapai atmosfer.

Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan di tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.