Posts Tagged ‘pencemaran air’


Air asam tambang memiliki kadar keasaman hingga 20-30 kali lipat dari hujan asam. Air asam tambang ditimbulkan oleh terlepasnya unsur-unsur logam pada batuan yang mengandung sulfida. Setiap kali batuan-batuan tersebut dibuang ke dalam bak penampungan sebagai limbah (tailling), sulfida akan bereaksi dengan oksigen dan air, yang menghasilkan reaksi kimia berupa asam sulfat,komponen dari hujan asam.

Asam sulfat limbah pertambangan yang ditampung di bak penampungan,akan melepaskan berbagai unsur logam yang terdapat pada batu-batuan, seperti arsenik,cadmium,merkuri,dan timah. Logam-logam tersebut tidak akan berbahaya ketika masih melekat pada batu,namun akan sangat mematikan bagi manusia,dan mahluk hidup lainnya ketika terlepas.

Logam arsenik akan mengakibatkan kanker kulit,dan tumor; merkuri dapat mengakibatkan kehancuran sistem syaraf;sedangkan timah akan menghambat pertumbuhan pada anak-anak.

Asam sulfat yang masih mengandung logam berat dari batuan ini akan terlarut,dan mengalir menuju sungai. Zat beracun itu sudah pasti akan meracuni dan membunuh unsur-unsur kehidupan di sepanjang perairan,dan dampak buruk lainnya adalah penurunan kualitas ekosistem kawasan tersebut dalam jangka waktu yang sangat lama.

Proses ini dikenal dengan istilah air asam tambang (acid mine drainage/amd),ini merupakan salah satu bentuk polusi terbesar dan permanen yang diakibatkan oleh aktifitas pertambangan.Kawasan perairan yang telah tercemar air asam tambang, akan didapati suatu lapisan minyak berwarna oranye di permukaan airnya.Hal itu disebabkan adanya unsur logam,khususnya besi yang ikut terlarut dalam aliran asam sulfat.

Dampak buruk dari air asam tambang benar-benar nyata,seperti yang terjadi di pertambangan gunung besi,utara California,AS. Selama lebih dari seabad ini pertambangan gunung besi telah menghasilkan besi,perak,emas,tembaga,dan seng. Meski aktifitas pertambangan telah ditutup sejak 1963,tetapi baru benar-benar berakhir 40 tahun kemudian, dan air asam tambang yang dihasilkan terus-menerus meracuni ikan dan kehidupan di perairan sungai Sacramento.

Sungai-sungai yang berada di sekitar kawasan pertambangan,mempunyai kadar pH yang sangat rendah,yakni Ph-3,ini berarti bahwa kualitas air di kawasan sungai tersebut 10.000 kali lebih asam daripada asam pada baterei. Para ahli memperkirakan bahwa gunung besi akan secara terus-menerus meracuni perairan,setidaknya selama 3000 tahun.

Solusi yang mungkin dapat dilakukan

Pada dasarnya ada dua pilihan yang dapat dijadikan sebuah usaha pencegahan agar limbah batuan yang mengandung sulfida tidak bercampur dengan air dan oksigen. Usaha yang pertama mensyaratkan adanya upaya revegetasi yang masif dan terkesan sukar,mengembalikan tingkat kesuburan tanah,bebatuan yang mengandung racun,dan kemudian reboisasi. Memperlakukan aliran air yang mengandung asam tambang menjadi lebih mungkin dilakukan,namun menjaganya tetap dalam kondisi stabil membutuhkan pemantauan dan pemeliharaan yang rutin dan waktunya tak terbatas.
Pilihan berikutnya bisa menggunakan materi alkaline seperti batu kapur untuk menetralkan kadar keasaman pada permukaan aliran sungai.Namun pendekatan ini justru menimbulkan masalah remediasi.Bagi negara-negara berkembang,pilihan ini menjadi tidak populer dikarenakan kurangnya sumber daya kepentingan politis.

Sumber: laporan Earthworks & Oxfam Amerika


Pemrosesan bijih tambang tidak selalu menghasilkan logam murni, maka dari itu di perlukan proses penyulingan. Untuk beberapa logam, seperti aluminium,nikel,dan tembaga, perlu dilakukan proses peleburan. Ini dilakukan melalui pemanasan dengan suhu tinggi secara konstan, untuk melepaskan logam dari bahan-bahan pengotor dalam bijih. Teknologi peleburan telah mengalami perbaikan semenjak setengah abad lalu, namunaktifitas ini masih menghasilkan polusi udara, khususnya reaksi oksidasi antara nitrogen dan belerang, unsur-unsur asap dan hujan asam.

Aktifitas peleburan menjadi penyebab utama pencemaran udara, Central Mills perusahaan pertambangan logam Kanada melepaskan hampir 622 ton belerang dioksida dan bahan pencemar lainnya di tahun 2001. Terdapat satu kasus yang lebih ekstrim, namun luput dari perhatian, yakni peleburan nikel di Norilsk, timur laut Rusia. Emisi asam dari peleburan tersebut mengakibatkan kerusakan hutan seluas 3.500 km persegi, dan menyebabkan gangguan pernapasan ratusan orang. Kegiatan peleburan di seluruh dunia menyumbang pencemaran sulfur dioksida sekitar 142 juta ton ke atmosfer tiap tahunnya, dengan kata lain turut menyumbang sebanyak 13 persen dari total emisi global.

Kegiatan peleburan juga melepaskan bahan pencemar lainnya, seperti emisi dari timah,arsenik,cadmium dan seng, yang pada umumnya dapat mengakibatkan gangguan yang serius. Di kota Hercalaneum,Missouri, pencemaran yang berasal dari aktifitas peleburan timah yang dilakukan oleh perusahaan Doe Run Lead semenjak 110 tahun silam, telah membuat 30 persen anak-anak di kota tersebut mengalami keracunan timah. Sebuah studi yang dilakukan oleh kementrian kesehatan di kota Peruvia Oroya, lokasi lainnya bagi perusahaan Doe Run Lead melakukan aktifitas peleburan, mengumumkan bahwa 99 persen anak-anak di kawasan tersebut telah tercemar timah, dan 20 persennya harus dirawat di rumah sakit.

Hingga saat ini masih belum diketahui dengan pasti, jenis pencemar yang terdeteksi pada emisi hasil beberapa peleburan, seperti pada peleburan tembaga milik Noranda Horne,Qubec,Kanada, dengan bahan pencemar organik padat (persisten organit pollutans) atau POPs. Komponen ini tidak mudah terurai dan cenderung bio akumulatif. POPs akan menumpuk di jaringan lemak binatang, yang akan bertambah tingkat konsentrasinya jika binatang tersebut termasuk dalam rantai makanan, selain itu POPs juga akan menggangu proses fisiologi manusia dan binatang.

Dan semenjak aktifitas peleburan menggunakan bahan bakar minyak, maka aktifitas tersebut juga melepaskan sejumlah gas rumah kaca, seperti Karbon dioksida, dan Perfluorocarbons (PFCs). Sebagai contoh, aktifitas peleburan aluminium telah melepaskan 2 ton karbon dioksida dan 1,4 kilo PFC dari setiap ton aluminium. PFCs menyebabkan 9.200 kali karbon panas dan akan terus berada di atmosfer selama 10.000 tahun.

Sumber: Laporan Earthworks & Oxfam Amerika


Sebagian besar emisi beracun yang dihasilkan pertambangan tidak dapat dilacak keberadaannya hingga dampaknya tersebar luas. Tetapi ada jenis lain dari limbah pertambanagan yang tidak dapat hilang, yakni penampung limbah tailling. Tailling merupakan endapan hasil dari penyulingan bijih berwujud seperti lumpur yang hampir padat, dan pada umumnya mengandung zat beracun.

Penampungan tailling umumnya terdiri atas alat bulldozing yang difungsikan untuk mengeringkan tailling dalam kolam, yang mampu menampung material tersebut dalam bentuk cair. Kolam secara rutin terus diperbesar, ketika volume tailling yang ditampung semakin membesar.

Meskipun namanya adalah bak penampungan, strukturnya masih menyerupai bangunan bendungan yang konvensional pada umumnya. Dimana bak penampungan tailling ini dibangun sebagai proyek tunggal, yang telah ditentukan standartnya.

Pada umumnya konstruksi bendungan tailling berumur panjang, melebihi umur pertambangan yang bersangkutan, hal ini menyebabkan sulitnya merawat struktur penampung tailling tersebut. Pada seperempat abad yang lalu, kecelakaan yang diakibatkan bocornya bak penempungan tailling mencapai tiga per empat jumlah total kecelakaan di dunia pertambangan.

Salah satunya terjadi pada pertambangan emas terbuka di Omai,Guyana.Pertambangan emas milik Camboir,Kanada ini merupakan salah satu pertambangan terbuka terbesar di muka bumi. Pada tahun 1995, bendungan penampung tailling jebol dan lebih dari 3 milliarkubik tailling yang mengandungsianida mengalir ke sungai Omai, salah satu anak sungai yang berhulu dari sungai terbesar di Guyana, Essequibo.

Presiden Guyana serta merta mengumumkan secara resmi bahwa sepanjang 51,4 km saluran drainase sungai yang berasal dari pertambangan menuju samudera atlantik tercemar, dan sebagai Zona Bencana Lingkungan.

Laporan awal pemerintah memperkirakan bahwa konsentrasi sianida di Omai sekitar 28 ppm, atau 140 kali lebih tinggi dari ambang batas menurut standar Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat.

Untuk mengatasi masalah tailling di kawasan pertambangan, perusahaan pertambangan menempatkan pompa di dekat badan sungai untuk memompa dan mengalirkan tailling ke aliran sungai. Hal ini dikenal dengan istilah Riverine Tailling Disposal, yang secara halus berarti membuang limbah tambang ke sungai, hal ini mengakibatkan tercemarnya ekosistem perairan, anak aliran sungai (DAS).

Dulu cara ini banyak digunakan oleh perusahaan pertambangan di seluruh dunia, namun saat ini negara-negara maju mengutuknya dengan keras. Metode tersebut umumnya sudah tidak dipakai lagi saat ini, tapi masih ada beberapa perusahaan pertambangan yang masih menggunakan metode ini, diantaranya adalah Tambang Ok Tedi, Grasberg, dan Porgera yang beroperasi di kepulauan  pasifik dan papua.

Pembuangan tailling ke sungai merupakan kegiatan ilegal dalam dunia pertambangan. Sebagai contoh di Ilo,Peru, terdapat dua perusahaan pertambangan dan peleburan yang dijalankan oleh Southern Peru Cooper Corporation ( dikontrol oleh Mexican Firm Group Mexico) menjadi penyebab menurunnya kualitas lingkungan sejak membuabg berbagai limbah ke aliran sungai.

Perusahaan yang telah beroperasi selama beberapa dekade itu telah melanggar hukum Peru, diantaranya telah membuang sebanyak 2.100 ton limbah ampas peleburan tiap harinya ke pantai utara Ilo (1960 – 1992), dan hingga tahun 1995 telah memompa sekitar 107.000 ton tailling tiap hari di dekat teluk Ite. Hasilnya sebanyak 8 – 9 juta ton limbah ampas peleburan telah menumpuk menjadi sedimen di sepanjang pantai. Saat ini limbah tailling dipompa ke kolam penampung, namun hal ini ternyata masih mencemari sungai Lacumba yang mengalir menuju teluk.

Berikutnya adalah pembuangan limbah ke laut. Hal ini menjadi lebih menarik perhatian di banding memilih sungai sebagi tempat pembuangan. Pertambnagan Ilo merupakan satu-satunya pertambangan yang berada di kawasan pantai, dan membuang limbahnya ke laut. Pembuangan limbah ke laut mengakibatkan permasalahan ekologis yang serius, mengingat perairan laut merupakan ekosistem biologi yang paling kaya jenisnya.

Pembuangan limah ke laut juga mengancam kehidupan manusia, seperti yang terjadi di Sulawesi utara, Indonesia. Pertambangan emas Newmont Minahasa Raya,milik perusahaan Newmont, Amerika Serikat, telah membuang lebih dari 4 juta ton tailling ke teluk Buyat antara tahun 1996 – 2003. Penduduk setempat telah melaporkan adanya ruam-ruam pada kulit mereka setelah menggunakan air laut. Di sisi lain, para ahli zat beracun juga menemukan adanya kandungan logam berat pada tubuh ikan dan plankton di kawasan teluk.

Aktifitas pembuangan tailling juga terjadi di kawasan pasifik, yang merupakan rumah bagi ekositem coral terbesar dunia-kawasan perairan di kepulauan Marinduque Filipina. Di perairan tersebut perusahaan tambang tembaga Marcopper telah membuang sebanyak 200 juta ton limbah batuan beracun selama 16 tahun, dan telah membentang sejauh 80 km persegi di kawasan tersebut.

Mengatasi dampak kesehatan masyarakat dan ekologis, maka industri pertambangan memilih cara untuk membuang limbah ke lautan yang lebih dalam melalui pipa di kedalaman 100 m – 500 m. Inilah yang dianggap oleh industri pertambangan sebagai solusi terbaik, mengingat lautan yang dalam memiliki kadar oksigen yang sedikit.

Namun metode ini masih mengandung kontroversi, dikarenakan masih minimnya pengetahuan kita mengenai ekologi dasar samudera, selain itu adanya kekhawatiran tentang kemungkinan kebocoran pada pipa  pembuangan,arus samudera, atau kegiatan ekologi yang dapay mengakibatkan tersebarnya limbah ke air laut.

Tumbuhnya kesadaran akibat dari pembuangan limbah ke laut, membuat Amerika dan Kanada melarang praktek tersebut. Pada tahun 2003, World Bank’s Extractive Industries Review merekomendasikan agar bank dunia tidak lagi memberikan dukungan keuangan bagi perusahaan tambang yang membuang limbahnya ke laut. Namun perlu diketahui bahwa anjuran tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan oleh perusahaan pertambangan.