Posts Tagged ‘tambora’


Letusan gunung Tambora tahun 1815 mampu menyemburkan sulfur hingga stratosfer, dan menyebabkan penyimpangan iklim global.

Pada musim semi dan musim panas tahun 1816, sebuah kabut kering terlihat di timur laut Amerika Serikat. Kabut itu  mengurangi cahaya matahari menjadi seperti bintik danterlihat dengan mata telanjang.

Baik angin atau hujan tidak dapat menghilangkan kabut tersebut. Kabut itu diidentifikasikan sebagai kabut aerosol sulfat stratosfer.

Pada musim panas tahun 1816, negara di Belahan Utara menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai Tahun tanpa musim panas. Temperatur normal dunia berkurang sekitar 0,4-0,7 °C, cukup untuk menyebabkan permasalahan pertanian di dunia.

Pada tanggal 4 Juni 1816, di Connecticut dilaporkan mengalami musim dingin yang ekstrem. Pada hari berikutnya hampir seluruh New England dilanda musim dingin.

Pada tanggal 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine. Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara.

Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun didekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.

1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 M,semenjak  letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600.

Tahun 1810-an adalah rekor dekade terdingin  akibat dari letusan  Gunung Tambora tahun 1815 . Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817 dan tahun 1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 °C, sehingga Eropa dilanda musim dingin yang mematikan.

Perubahan iklim menyebabkan wabah tifus di Eropa Tenggara dan Laut Tengah bagian timur pada tahun 1816 dan tahun 1819.

Banyak ternak meninggal di New England selama musim dingin sepanjang tahun 1816-1817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di Kepulauan Britania.

Keluarga-keluarga di Wales mengungsi dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di Irlandia utara dan barat daya karena mengalami gagal panen.

Demonstrasi dan kerusuhan besar-besaran terjadi di Jerman disebabkan harga makanan naik dengan tajam.  Ini adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19

Iklan

Gunung Tambora

Posted: 7 Juli 2011 in hiking
Tag:, ,

Gunung Tambora (atau Tomboro) 2850 Mdpl adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak pada koordinat 8°15′ LS dan 118° BT, di pulau Sumbawa,NTB, Indonesia.

Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima.  Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya, sehingga mampu meningkatkan ketinggian  sampai 4.300 m yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara.

Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181.

Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut, bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan.

Selain itu,dampak letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia pada tahun 1816 dikenal  sebagai Tahun tanpa musim panas. Hal inidisebabkan karena terdapat partikel debu vulkanis yang mencapai atmosfer.

Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan di tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.


Sebelum letusan tahun 1815, Gunung Tambora telah   meletus sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 3910 SM, 3050 SM, dan 740 M. Masing-masing letusan memiliki letusan di lubang utama, tetapi terdapat pengecualian untuk letusan ketiga. Pada letusan ketiga, tidak terdapat aliran piroklastik. Hal ini dapat diungkap melalui teknik penanggalan radio karbon.

Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815. Besar letusan ini masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter kubik. Karakteristik letusannya termasuk letusan di lubang utama, aliran piroklastik, korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera.

Letusan ketiga ini memengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal 15 Juli 1815. Aktivitas selanjutnya kemudian terjadi pada bulan Agustus tahun 1819 dengan adanya letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai gempa susulan yang dianggap sebagai bagian dari letusan tahun 1815.

Letusan ini masuk dalam skala kedua pada skala VEI. Sekitar tahun 1880, Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera. Letusan ini membuat aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.

Gunung Tambora merupakan gunung api aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20.Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967, yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.